Selasa, 22 September 2015

Aku Perkosa Kakak Pacar ku

Siang itu, ponselku berbunyi, dan suara merdu dari seberang
sana memanggil.
“Dear, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting. Dari
pada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gih
sana.”
“Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang. Kamu meeting sampai
jam berapa?”
“Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah.”
Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salah
satu kompleks di Jakarta. Sani memang kariernya sedang naik
daun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini. Aku
sih sudah punya posisi lumayan di kantor. Hanya saja,
kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motor
saja dari pada beli mobil. Sani pun tak keberatan mengarungi
pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.
Siang itu, ponselku berbunyi, dan suara merdu dari seberang
sana memanggil.
“Dear, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting. Dari
pada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gih
sana.”
“Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang. Kamu meeting sampai
jam berapa?”
“Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah.”
Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salah
satu kompleks di Jakarta. Sani memang kariernya sedang naik
daun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini. Aku
sih sudah punya posisi lumayan di kantor. Hanya saja,
kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motor
saja dari pada beli mobil. Sani pun tak keberatan mengarungi
pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.